Skip to main content

PUBG HARAM? FILM DISENSOR?

Assalamualaikum.


Kita kembali dikagetkan dengan keputusan Pemerintah yang mengharamkan beberapa game yang bergenre Firts Person Shooter (FPS) dan genre yang lain dengan alasan kejadian terorisme di Selandia Baru (New Zealand) yang telah membunuh puluhan umat Muslim yang sedang shalat
tepatnya di hari Jumat pada tanggal 15 Maret 2019. Lucu saja mendengar fatwa dari M*I yang mengharamkan beberapa game. Kok bisa-bisanya sebuah game dijadikan kambing hitam atas kejahatan manusia? Logika Penulis yang ngaco atau M*I? 

"Tapi dalam bentuk substansi yang kekerasan, pornografi, horor, saya kira itu sangat jelas. Merusak pikiran-pikiran dari generasi muda kita. Bahkan tertanam sikap radikal teroris bagi mereka itu. Ini harus ditolak sesungguhnya". Pernyataan ini Penulis kutip dari media yang sempat mewawancarai salah satu anggota M*I. Jika kita telaah pernyataan itu, maka nantinya bukan hanya game yang diharamkan. Televisi, Handphone, Komputer, Internet, juga akan ikut haram. 

Pada tulisan kali ini, Penulis juga akan membahas tentang K*I yang telah mensensor banyak film yang malah membuat kita sebagai penonton ingin mencari tau lebih jauh adegan mana yang disensor dengan leluasa. Bagi Penulis keputusan ini memberikan pesan kepada kita jika hari ini Pemerintah belum menganggap kita semua sebagai orang dewasa yang bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Lagipula, program-program acara di televisi yang sedang marak akhir-akhir ini lebih banyak menampilkan hiburan ketimbang edukasi. Harusnya televisi dijadikan sebagai salah satu media yang bisa mengedukasi penontonnya, tapi malah menyiarkan hal-hal yang kadang tidak bermanfaat bagi penonton dalam hal ini hanya menghibur semata.  

Untuk kesimpulan kali ini, Pemerintah harusnya lebih banyak megedukasi rakyat agar tidak terjerat dalam kesalahan berpikir akibat dari aturan-aturan yang harusnya tidak ada.

Comments

Popular posts from this blog

Tukang Bengkel

Assalamualaikum,         Hari ini tanggal 23 januari 2013, hari rabu, jam 1.53 pagi. Kemarin dalam perjalanan pulang ke rumah dari kampus, aku menaiki sebuah kenderaan beroda dua iaitu motor. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba tayar motor meletup. Aku pun singgah di sebuah bengkel yang dekat dengan tempat tayar motor meletup. Seorang lelaki tua (tukang bengkel) pun muncul dan cuba untuk mencari penyebab kenapa tayar motor boleh meletup. Dalam keadaan menunggu, tiba-tiba si tukang bengkel tersebut pun melontarkan sebuah kata-kata yang sangat sederhana. “kenapa banyak orang ingin belajar bersungguh-sungguh?” kata tukang bengkel tersebut. Dengan bersahaja, aku pun menjawab pertanyaan tukang bengkel itu. “sebab si pelajar ingin mendapatkan ilmu dengan banyak.” Si tukang bengkel pun berkata “SALAH! Itu bukanlah kenginan mereka yang sesungguhnya. Mereka hanya ingin mendapatkan gelar, dan hanya ingin mendapatkan ijazah. Kalau mau menjadi pandai, tidak per...

BACALAH DENGAN MENYEBUT NAMA TUHANMU YANG TELAH MENCIPTAKAN

Assalamualaikum, Haruskah Anda shalat? Mengapa Anda shalat? Mengapa Anda melakukan kebaikan? Mengapa ? (jawab sebelum Anda lanjut membaca artikel ini). *jika jawaban Anda karna ingin mendapatkan pahala dan masuk surga, maka And wajib menyelesaikan artikel ini.* Beranjak dari pengalaman yang ada disekitar Penulis. Seringkali Penulis menemukan orang yang menyepelehkan hal kecil yang memiliki dampak besar. Contohnya saja mengawali sesuatu dengan kalimat basmalah (bismillahirrahmanirrahim). Fenomena-fenomena seperti ini biasa Penulis temukan saat ujian dimana Mahasiswa lupa menulis kalimat basmalah dilembar jawaban. Itu tidak masalah bagi sebagian orang, tapi pesan yang Penulis dapatkan adalah, Mahasiswa tersebut tidak lagi menjawab soal karna ridha Allah S.W.T, melainkan karna nilai dari dosen. Apakah ridha Allah lebih penting dari nilai dosen? Penulis hanya takut jika semakin banyak orang beragama yang tidak faham agama. Seperti yang kita ketahui, basmalah (bismillahirrahm...

ADA APA DENGAN PEMILU 2019?

Assalamulaiakum, Baru-baru ini kita telah melakukan pesta demokrasi secara besar-besaran tepatnya pada tanggal 17 April 2019 di seluruh Indonesia. Bagi beberapa orang mungkin ini satu prestasi yang bisa dibanggakan, tapi ada juga yang menganggap bahwa dengan dilakukannya pemilihan umum serentak di hari yang bersamaan, ini merupakan gambaran kebobrokan kita dalam berdemokrasi (katanya).