Skip to main content

Pancasila sebagai bentuk kodrat pluralistik?

Assalamualaikum


Pada 1 Juni 1945, kata Pancasila pertama kali diperkenalkan Bung Karno saat sidang BPUPKI. Sebagai pondasi berdirinya rumah besar bernama Republik Indonesia, agar negeri ini sanggup menanungi kodrat pluralistiknya. 


Kini 1 Juni 2019, yang tersisa tampaknya sebatas kewajiban upacara. Seremonial hormat bendera yang miskin makna.  Hadir agar gaji tak dipangkas. Sisanya hanya bernafas lega karena tak punya kewajiban untuk upacara. 

Di alam demokrasi seluruh nilai berhak mendapat tempat selagi masih dalam tataran pemikiran. Kebebasan berpikir dilindungi, individualisme dihargai, disitulah radikalisme berhasil mendapat momentum.

Sentimen ketidakpuasan publik dieksploitasi, agar sekelompok masyarakat mau bertindak. Sentimen agama dimanfaatkan, agar sekelompok masyarakat mau bergerak. Tindakannya menolak sistem yang berlaku. Gerakannya menghendaki perubahan bentuk negara. Segala cara dilakukan. Ciri khasnya, menolak toleransi. Menolak kerja sama dengan penganut agama yang lain. Bahkan dengan saudara seagama yang berbeda pandangan. 

Sepertinya pancasila hilang makna karna kita asik dengan dunia kita sendiri, Sibuk memperkaya diri masing-masing, sibuk mengamati kisah cinta negara korea, sibuk dengan isme-isme. Kini kita tak sedikit dari kita yang sudah tidak mampu memahami arti 5 sila itu. Kita hafal kelima sila itu, tapi tidak memahami apalagi mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari. 

Seperti menyambut hari lahir kekasih, hari lahir Pancasila penting pula untuk diperingati. Mungkin sulit bagi kita untuk menghayati sepenuhnya, tapi setidaknya kita mengerti. Bahwa 1 Juni bukan hanya sekedar seremonial hormat bendera. 

Sumber : detik.com, tita adelia

Comments

Popular posts from this blog

Tukang Bengkel

Assalamualaikum,         Hari ini tanggal 23 januari 2013, hari rabu, jam 1.53 pagi. Kemarin dalam perjalanan pulang ke rumah dari kampus, aku menaiki sebuah kenderaan beroda dua iaitu motor. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba tayar motor meletup. Aku pun singgah di sebuah bengkel yang dekat dengan tempat tayar motor meletup. Seorang lelaki tua (tukang bengkel) pun muncul dan cuba untuk mencari penyebab kenapa tayar motor boleh meletup. Dalam keadaan menunggu, tiba-tiba si tukang bengkel tersebut pun melontarkan sebuah kata-kata yang sangat sederhana. “kenapa banyak orang ingin belajar bersungguh-sungguh?” kata tukang bengkel tersebut. Dengan bersahaja, aku pun menjawab pertanyaan tukang bengkel itu. “sebab si pelajar ingin mendapatkan ilmu dengan banyak.” Si tukang bengkel pun berkata “SALAH! Itu bukanlah kenginan mereka yang sesungguhnya. Mereka hanya ingin mendapatkan gelar, dan hanya ingin mendapatkan ijazah. Kalau mau menjadi pandai, tidak per...

BACALAH DENGAN MENYEBUT NAMA TUHANMU YANG TELAH MENCIPTAKAN

Assalamualaikum, Haruskah Anda shalat? Mengapa Anda shalat? Mengapa Anda melakukan kebaikan? Mengapa ? (jawab sebelum Anda lanjut membaca artikel ini). *jika jawaban Anda karna ingin mendapatkan pahala dan masuk surga, maka And wajib menyelesaikan artikel ini.* Beranjak dari pengalaman yang ada disekitar Penulis. Seringkali Penulis menemukan orang yang menyepelehkan hal kecil yang memiliki dampak besar. Contohnya saja mengawali sesuatu dengan kalimat basmalah (bismillahirrahmanirrahim). Fenomena-fenomena seperti ini biasa Penulis temukan saat ujian dimana Mahasiswa lupa menulis kalimat basmalah dilembar jawaban. Itu tidak masalah bagi sebagian orang, tapi pesan yang Penulis dapatkan adalah, Mahasiswa tersebut tidak lagi menjawab soal karna ridha Allah S.W.T, melainkan karna nilai dari dosen. Apakah ridha Allah lebih penting dari nilai dosen? Penulis hanya takut jika semakin banyak orang beragama yang tidak faham agama. Seperti yang kita ketahui, basmalah (bismillahirrahm...

ADA APA DENGAN PEMILU 2019?

Assalamulaiakum, Baru-baru ini kita telah melakukan pesta demokrasi secara besar-besaran tepatnya pada tanggal 17 April 2019 di seluruh Indonesia. Bagi beberapa orang mungkin ini satu prestasi yang bisa dibanggakan, tapi ada juga yang menganggap bahwa dengan dilakukannya pemilihan umum serentak di hari yang bersamaan, ini merupakan gambaran kebobrokan kita dalam berdemokrasi (katanya).